TUGAS KULIAH FILSAFAT ILMU (Bagian I)
Berikut
adalah 5 pertanyaan yang Sdri. Welli Meinarni buat dan telah saya jawab.
1. Ada
sebuah buku yang pernah saya baca yang membahas, tentang konsep manusia menurut
Nietzsche dan Mencius. Tolong berikan komparasi dari pemikiran kedua tokoh
tersebut mengenai konsep manusia!
Jawaban
saya:
Dari
kedua filsuf tersebut (Nietzsche dan Mencius) dapat dilihat bahwa perbedaan
keduanya sangat mencolok. Sekali lagi, pemikiran mereka pastilah berbeda
berdasar pada lingkungan mereka sendiri. Hal ini erat kaitannya dengan Filsafat
Timur dan Filsafat Barat sendiri.
Perbedaan
pertama dari kedua konsep tersebut adalah soal tujuan macam apa yang ingin
dicapai oleh manusia. Meskipun mereka sama merumuskan tujuan pada dirinya
sendiri, tetapi inti dari tujuan yang mereka ungkapkan sudah berbeda. Nietzsche
merumuskan tujuan manusia itu ada pada Uebermensch.
Sedangkan Mencius merumuskan tujuan manusia ada pada surga yang merupakan
puncak kebahagiaan manusia.
Hal
kedua adalah perbedaan dalam hal cara untuk mencapai tujuan hidup manusia
tersebut. Nietzsche mengatakan bahwa untuk mencapai Uebermensch, manusia harus secara aktif memaklumkan perang dengan
dirinya sendiri. Memaklumkan perang di sini mengandung arti bahwa dalam proses
menuju pada Uebermensch. Manusia
harus secara aktif mengusahakan tercapainya tujuan itu. Sedangkan Mencius lebih
cenderung pasif dalam proses mencapai tujuan itu. Pasif di sini sebagai sebuah
penyerahan diri seutuhnya pada kodrat manusia (human nature).
2. Menurut
pendapat Anda bagaimanakah manusia yang autentik itu? Mengapa manusia harus
menjadi autentik dan apa akibatnya jika seorang tidak autentik?
Jawaban
saya:
Manusia
yang autentik itu adalah manusia yang menjadi dirinya sendiri, manusi yang
tidak menjiplak dari orang lain, sehingga memiliki sikap dan pendirian sendiri.
Menurut Guigose, konsep autensititas memiliki dua aspek pemahaman, yang pertama
adalah pemahaman bahwa untuk mejadi autentik seseorang perlu menemukan jati
diri sejati yang ada di dalam diri melalui proses refleksi. Jika seseorang
mampu mencapai pemahaman penuh tentang dirinya sendiri, maka barulah ia
mencapai eksistensi diri yang autentik.
Yang
kedua adalah selain menemukan jati diri sejatinya, seseorang juga perlu
mengeksperikan jati diri sejati tersebut di dalam tindakannya ke dalam dunia
sosial. Selain itu orangperlu menjadi dirinya sendiri di dalam relasinya dengan
orang lain.
3.
Bagaimana
menjadi manusia perempuan dalam filsafat?
Jawaban
saya:
Wanita
dan pria pada dasarnya sama ditinjau dari tolak ukur nilai-nilai Ilahi.
Terdapat beberapa keistimewaan yang dimiliki pria, yaitu berkenaan dengan
tugas-tugas keduniaan, yang menunjukan tanggungjawab pria lebih banyak. Wanita
adalah gambaran kelemahan dan kehinaan fanatisme dan tradisi jahiliah yang
telah membudaya ditengah masyarakat sejak dulu. Membuang anggapan bahwa wanita
tidak diperkenankan untuk memanfaatkan fasilitas pendidikan seperti pria.
Padahal wanita juga mempunyai hak dalam aktifitas masyarakat. Sebagai lawan
dari suami, wanita memiliki tugas dan tanggungjawab terhadap suaminya.
4.
Bagaimana
hubungan ilmu, filsafat, dan agama?
Jawaban
saya:
ILMU,
mencari kebenaran dengan cara penyelidikan (riset) sesuai dengan
eksistensinya yang berhubungan dengan
alam empiris.Dalam penyelidikan ilmu selalu mencari hukum sebab akibat. Sebagai hukum sebab
akibat maka kebenaranya pasti ada.
FILSAFAT,
karena selalu berhadapan denga alam empiris,
(metafisika, ghaib) maka ia komit dengan organon (alatnya) yaitu logika.
Cara kerjanya selalu diawali dengan pertanyaan apa. Berpikir logis, sistematis,
radikal, dan universal.
AGAMA,
menemukan konsep kebenaran bersumber pada wahyu, kebenarannya bersifat mutlak,
absolut sebagiai kebenaran tertinggi.
Ilmu
kebenarannya bersifat empiris, filsafat kebenarannya bersifat spekulatif
(berdasrkan nalar dan logika), keduanya bersifat nisbi. Agama kebenarannya
bersifat absolut mutlak, dalam penentuannya semua perlu perumusan.
5. Kaum-kaum
eksistensialis memiliki gaya hidup yang menjadi serius, dinamis, penuh usaha
dan optimis menuju masa depan. Namun oleh pandangan-pandangan yang terkandung
di dalam dirinya, segi-segi positif etika eksistensialis itu menjadi berkurang
positifnya. Apa saja kelemahan etika eksistensialis, yang menyebabkan hal itu
terjadi?
Jawaban
saya:
Kelemahan-kelemahan
etika eksistensialis diantaranya:
a. Etika eksistensialis terperosok ke dalam pendirian yang individualistis.
Dengan pendirian itu, di bawah nama melaksanakan proyek hidup, bisa-bisa para
pengikut aliran eksistensialis hanya mencari dan mengejar kepentingan diri.
Karena yang baik ditentukan sendiri bukan berdasarkan norma, maka yang dianggap
baik bukanlah kebaikan sejati, melainkan baik menurut dan bagi diri mereka
sendiri. Cara memandang kebaikan yang individualistis itu dapat merugikan
sesama, masyarakat dan dunia.
b. Dengan mengabaikan tata tertib, peraturan, hukum, kaum
eksistensialis menjadi manusia yang anti sosial. Tidak dapat disangkal ada
norma masyarakat yang sudah using, namun menyatakan segala norma tidak berlaku
sungguh melawan akal sehat. Karena norma masyarakat merupakan hasil perjalanan
pencarian nilai hidup dan perumusannya
c. Dengan mengambil sikap bebas, merdeka, kaum eksistensialis
memandang kemerdekaan sebagai tidak terbatas. Padahal, dalam hidup ini tidak
ada kemerdekaan yang tanpa batas. Karena, dalam perwujudannya selalu akan
dibatasi. Pembatasan itu berasal dari sipelaksana itu sendiri dan masyarakat.
d. Kaum eksistensialis amat memperhitungkan situasi. Namun
situasi itu mudah goyah. Kelemahan itu masih diperkuat sifat individualistis
yang dipegang oleh kaum eksistensialis. Bila orang bersandar pada situasi dan
dirinya sendiri saja, pandangannya menjadi terbatas, lingkup perbuatannya
dipersempit, dan pendiriannya rapuh.
AMELIA
14709251035
P Mat B
FILSAFAT ILMU
PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
AMELIA
14709251035
P Mat B
FILSAFAT ILMU
PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar