Rabu, 29 Oktober 2014

TUGAS KULIAH FILSAFAT ILMU Bagian I (KULIAH FILSAFAT ILMU PROF. DR. MARSIGIT, M.A.) Pertemuan Keenam Kamis, 23 Oktober 2014 Pukul 09.30 – 11.10 di ruang 201A Gedung Lama PPs UNY

TUGAS KULIAH FILSAFAT ILMU (Bagian I)

Berikut adalah 5 pertanyaan yang Sdri. Welli Meinarni buat dan telah saya jawab.

1.       Ada sebuah buku yang pernah saya baca yang membahas, tentang konsep manusia menurut Nietzsche dan Mencius. Tolong berikan komparasi dari pemikiran kedua tokoh tersebut mengenai konsep manusia!
Jawaban saya:
Dari kedua filsuf tersebut (Nietzsche dan Mencius) dapat dilihat bahwa perbedaan keduanya sangat mencolok. Sekali lagi, pemikiran mereka pastilah berbeda berdasar pada lingkungan mereka sendiri. Hal ini erat kaitannya dengan Filsafat Timur dan Filsafat Barat sendiri.
Perbedaan pertama dari kedua konsep tersebut adalah soal tujuan macam apa yang ingin dicapai oleh manusia. Meskipun mereka sama merumuskan tujuan pada dirinya sendiri, tetapi inti dari tujuan yang mereka ungkapkan sudah berbeda. Nietzsche merumuskan tujuan manusia itu ada pada Uebermensch. Sedangkan Mencius merumuskan tujuan manusia ada pada surga yang merupakan puncak kebahagiaan manusia.
Hal kedua adalah perbedaan dalam hal cara untuk mencapai tujuan hidup manusia tersebut. Nietzsche mengatakan bahwa untuk mencapai Uebermensch, manusia harus secara aktif memaklumkan perang dengan dirinya sendiri. Memaklumkan perang di sini mengandung arti bahwa dalam proses menuju pada Uebermensch. Manusia harus secara aktif mengusahakan tercapainya tujuan itu. Sedangkan Mencius lebih cenderung pasif dalam proses mencapai tujuan itu. Pasif di sini sebagai sebuah penyerahan diri seutuhnya pada kodrat manusia (human nature).

2.    Menurut pendapat Anda bagaimanakah manusia yang autentik itu? Mengapa manusia harus menjadi autentik dan apa akibatnya jika seorang tidak autentik?
Jawaban saya:
Manusia yang autentik itu adalah manusia yang menjadi dirinya sendiri, manusi yang tidak menjiplak dari orang lain, sehingga memiliki sikap dan pendirian sendiri. Menurut Guigose, konsep autensititas memiliki dua aspek pemahaman, yang pertama adalah pemahaman bahwa untuk mejadi autentik seseorang perlu menemukan jati diri sejati yang ada di dalam diri melalui proses refleksi. Jika seseorang mampu mencapai pemahaman penuh tentang dirinya sendiri, maka barulah ia mencapai eksistensi diri yang autentik.
Yang kedua adalah selain menemukan jati diri sejatinya, seseorang juga perlu mengeksperikan jati diri sejati tersebut di dalam tindakannya ke dalam dunia sosial. Selain itu orangperlu menjadi dirinya sendiri di dalam relasinya dengan orang lain.

3.        Bagaimana menjadi manusia perempuan dalam filsafat?
Jawaban saya:
Wanita dan pria pada dasarnya sama ditinjau dari tolak ukur nilai-nilai Ilahi. Terdapat beberapa keistimewaan yang dimiliki pria, yaitu berkenaan dengan tugas-tugas keduniaan, yang menunjukan tanggungjawab pria lebih banyak. Wanita adalah gambaran kelemahan dan kehinaan fanatisme dan tradisi jahiliah yang telah membudaya ditengah masyarakat sejak dulu. Membuang anggapan bahwa wanita tidak diperkenankan untuk memanfaatkan fasilitas pendidikan seperti pria. Padahal wanita juga mempunyai hak dalam aktifitas masyarakat. Sebagai lawan dari suami, wanita memiliki tugas dan tanggungjawab terhadap suaminya.

4.        Bagaimana hubungan ilmu, filsafat, dan agama?
Jawaban saya:
ILMU, mencari kebenaran dengan cara penyelidikan (riset) sesuai dengan eksistensinya  yang berhubungan dengan alam empiris.Dalam penyelidikan ilmu selalu mencari  hukum sebab akibat. Sebagai hukum sebab akibat maka kebenaranya pasti ada.
FILSAFAT, karena selalu berhadapan denga alam empiris,  (metafisika, ghaib) maka ia komit dengan organon (alatnya) yaitu logika. Cara kerjanya selalu diawali dengan pertanyaan apa. Berpikir logis, sistematis, radikal, dan universal.
AGAMA, menemukan konsep kebenaran bersumber pada wahyu, kebenarannya bersifat mutlak, absolut sebagiai kebenaran tertinggi.
Ilmu kebenarannya bersifat empiris, filsafat kebenarannya bersifat spekulatif (berdasrkan nalar dan logika), keduanya bersifat nisbi. Agama kebenarannya bersifat absolut mutlak, dalam penentuannya semua perlu perumusan.

5.     Kaum-kaum eksistensialis memiliki gaya hidup yang menjadi serius, dinamis, penuh usaha dan optimis menuju masa depan. Namun oleh pandangan-pandangan yang terkandung di dalam dirinya, segi-segi positif etika eksistensialis itu menjadi berkurang positifnya. Apa saja kelemahan etika eksistensialis, yang menyebabkan hal itu terjadi?
Jawaban saya:
Kelemahan-kelemahan etika eksistensialis diantaranya:
a.    Etika eksistensialis  terperosok ke dalam pendirian yang individualistis. Dengan pendirian itu, di bawah nama melaksanakan proyek hidup, bisa-bisa para pengikut aliran eksistensialis hanya mencari dan mengejar kepentingan diri. Karena yang baik ditentukan sendiri bukan berdasarkan norma, maka yang dianggap baik bukanlah kebaikan sejati, melainkan baik menurut dan bagi diri mereka sendiri. Cara memandang kebaikan yang individualistis itu dapat merugikan sesama, masyarakat dan dunia.
b.      Dengan mengabaikan tata tertib, peraturan, hukum, kaum eksistensialis menjadi manusia yang anti sosial. Tidak dapat disangkal ada norma masyarakat yang sudah using, namun menyatakan segala norma tidak berlaku sungguh melawan akal sehat. Karena norma masyarakat merupakan hasil perjalanan pencarian nilai hidup dan perumusannya
c.      Dengan mengambil sikap bebas, merdeka, kaum eksistensialis memandang kemerdekaan sebagai tidak terbatas. Padahal, dalam hidup ini tidak ada kemerdekaan yang tanpa batas. Karena, dalam perwujudannya selalu akan dibatasi. Pembatasan itu berasal dari sipelaksana itu sendiri dan masyarakat.
d.      Kaum eksistensialis amat memperhitungkan situasi. Namun situasi itu mudah goyah. Kelemahan itu masih diperkuat sifat individualistis yang dipegang oleh kaum eksistensialis. Bila orang bersandar pada situasi dan dirinya sendiri saja, pandangannya menjadi terbatas, lingkup perbuatannya dipersempit, dan pendiriannya rapuh.


AMELIA

14709251035
P Mat B
FILSAFAT ILMU
PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar