Rabu, 29 Oktober 2014

TUGAS KULIAH FILSAFAT ILMU Bagian 2 (KULIAH FILSAFAT ILMU PROF. DR. MARSIGIT, M.A.) Pertemuan Keenam Kamis, 23 Oktober 2014 Pukul 09.30 – 11.10 di ruang 201A Gedung Lama PPs UNY

TUGAS KULIAH FILSAFAT ILMU (Bagian 2)

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang saya tulis dan telah coba dijawab oleh Sdra. Welli Meinarni, S.Pd. Adapun pertanyaan beserta jawabannya adalah sebagai berikut:

1. Mengapa pengertian frilsafat dalam diri kita bisa berubah seiring berjalannya waktu?

Jawaban:
Pengertian filsafat yang ada pada diri kita memang selalu berubah-ubah karena filsafat itu adalah pikiran kita sendiri. MenurutImanuel Kant jika engkau ingin mengetahui dunia, maka tengoklah pikiranmu sendiri, karena dunia itu sama persis dengan apa yang sedang engkau pikirkan. Kita sebagai manusia yang memiliki berbagai macam sifat dalam dirinya dan juga kadang memiliki pemikiran yang berubah-ubah. Pada dasarnya tiadalah di dunia ini meliputi yang ada dan mungkin ada adalah sama, aku tidak sama dengan aku karena ada aku yang pertama dan ada aku yang kedua, belum selesai aku menyebutkan diriku yang sekarang aku telah berubah menjadi diriku yang lain. Begitu juga dengan pikiran yang memikirkan tentang pengertian filsafat itu sendiri, akan ada bermacam-macam pengertian yang muncul pada diri kita seiring waktu yang berjalan, seiring kita selalu membaca, membaca dan membaca elegi-elegi yang difasilitasi oleh Pak Prof agar mahasiswanya bisa mempelajari apa sebenarnya filsafat itu dan bagaimana mengembangkan filsafat diri kita sendiri.  Semakin banyak kita membaca dan semakin banyak pengetahuan kita tentang filsafat maka kita akan semakin melengkapi tentang pengertian filsafat yang kita punyai. Karena memang semakin banyak kita belajar maka kita akan merasa ilmu yang kita miliki selama ini masih sedikit dengan banyak membaca dan belajar memahaminya maka kita semakin banyak pengetahuan untuk melengkapi ilmu yang kita miliki.

2. Menurut Anda apakah ada hubungan antara spiritualisme dengan filsafat? jelaskan!
    
Jawaban:
Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh tentang. hakikat kebenaran sesuatu, setiap manusia sebaiknya mengembangkan filsafat yang ada pada dirinya sesuai dengan koridorNya karena memang filsafat memiliki pengaruh besar terhadap spiritual seseorang. Selain itu juga filsafat merupakan ilmu yang tertua dan menjadi induk ilmu pengetahuan yang lain. Sebagaimana diungkapkan oleh John S. Brubacher sebagai berikut:
Philosophy was, as its eymologv from the Greek words Pilos and Sopia, suggest love of wisdom or learning. More over, it was lo’e of learning in general, it subsumed under one, heading what to day we call scince ‘as well as what we now call philospohy It is for the reason that philosophy is often referred to us the mother as well as. the qreen of the, scince.
Artinya:
Filsafat berasal dan perkataan Yunani yaitu ‘Philos dari Sopia yang berarti rinto kebijaksanaan atau belajar. Lebih dan itu dapat diartikan cinta belajar pada umumnnya termasuk dalam suatu ilmu yang kita sebut sekarang dengan. filsafat. Untuk alasan inilah maka sering dikatakan bahwa filsafat adalah induk atau ratu ilmu pengetahuan.

Spiritualisme di dalam filsafat adalah sebentuk karakteristik dari sistem pemikiran manapun yang meyakini eksistensi dari realitas immaterial yang tak bisa dicerap oleh indria. Didefinisikan seperti itu, spiritualisme jadi melingkupi cakupan di dalam berbagai pandangan filosofis yang luas. Makanya, dualisme dan monisme, theisme dan atheisme,pantheisme, idealisme, dan banyak posisi filosofis lainnya juga dikatakan bersesuaian dengan spiritualisme, sejauh mereka juga beranggapan bahwa realitas ini bebas dan bersifat superior ketimbang materi. filsafat ialah daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami mendalami dan menyelami secara radikal dan integral sistematik mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengertian tentang bagaimana hakikatnya yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.

3. Apa yang menyebabkan filsafat antara orang yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda?
    
Jawaban:
Filsafat itu adalah pikiran kita sendiri, setiap manusia yang satu dengan manusia yang lainnya memiliki pemikiran yang berbeda-beda dalam segala hal, begitu juga dengan filsafat. Setiap orang memiliki filsafatnya sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan berpikir dan metode bagaimana pola pikir dari manusia tersebut, karena memang filsafat itu dikembangkan dengan suatu proses yang berbeda dari manusia yang satu dengan yang lainnya. Tiadalah di dunia ini yang ada maupun yang mungkin ada memiliki kesamaan.

4. Bagaimana ruang, waktu dan gerak  mempengaruhi manusia?
    
Jawaban:
Ruang, waktu dan gerak adalah salah satu bagian terpenting dan mempunyai pengaruh yang besar untuk kehidupan manusia. Berikut akan saya sedikit jelaskan mengenai ruang, waktu dan gerak menurut Newton :
a.    Ruang bersifat objektif dan merupakan sejenis wadah yang di dalamnya terjadi kejadian-kejadian serta di dalamnya berada berbagai objek. Bahkan ruang tetap ada walaupun di dalamnya tidak terdapat objek ataupun tidak terjadi kejadian apapun.
b.    Ruang bersifat sejenis, sebuah ruang yang dipandang dari berbagai sudut pandang itu sesungguhnya satu dan sama. Dunia tempat kita hidup sama bagi setiap orang dan mempunyai susunan ruang tersendiri.
c.    Ruang bersifat tak berhingga karena memang tidak ada seorangpun yang bisa menunjukkan batas terakhir suatu ruang tertentu.Sesungguhnya memang tidak ada awal, tengah atau akhir ruang. Ruang sebagai hasil cerapan ( dalam hal ini yang dapat dilihat) memang semacam bola bagi orang yang melihatnya seakan-akan berada di pertengahan dari bola tersebut.
d.    Ruang bersifat kesinambungan itu hanya ada di dalam pikiran kita seolah-olah suatu ruangan itu bisa dibagi-bagi sampai tak terhingga jumlahnya.
e.    Waktu bersifat objektif, sejenis, sinambung dan tidak berhingga, namun bermatra satu dan berarah satu.Ruang mempunyai tiga matra yaitu atas-bawah, depan –belakang, kiri-kanan. Sedangkan waktu hanya bermatra depan-belakang. Di dlam ruang kita dapat pergi ke setiap arah, kita hanya dapat pergi ke depan.
f.     Gerakan diukur dengan jalan membagi jumlah perubahan tempat dengan jumlah waktu yang dibutuhkan
Dari beberapa penjelasan diatas bisa kita ketahui bahwa ruang dan waktu sesungguhnya merupakan tempat-tempat bagi dirinya sendiri, maupun bagi hal-hal yang lain. Semua benda terdapat dalam waktu ditinjau dari segi tata urutannya, dan terdapat dalam ruang yang ditinjau dari segi tata letaknya. Berdasarkan atas hakekatnya sendirilah ruang dan waktu merupakan tempat-tempat utama yang di dalamnya barang-barang dapat bergerak atau digerakkan.

5. Apa yang membedakan filsafat alam dan filsafat postmodern?

Jawaban:
Filsafat alam (dari bahasa Latin philosophia naturalis) adalah istilah yang melekat pada pengkajian alam dan semesta fisika yang pernah dominan sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan modern.
Postmodern merupakan penolakan yang radikal terhadap pernikiran modern. Sebagaimana diketahui bahwa paham falsafah modern ini dibentuk oleh Immanuel Kant, Rene Descartes, dan David Hume. Meskipun harus diakui bahwa pemikiran pada era modern tersebut telah juga melakukan lompatan-lompatan, terutama dengan berkembangnya secara pesat ilmu pengetahuan dan teknologi, yang menggantikan konsep pramode prailmiah yang sangat menekankan pada kepercayaan, mitos, takhayul, cerita-cerita primitif, dan hal-hal yang tidak logis lainnya. 
Perkembangan dunia modern yang sarat dengan ilmu dan teknologi dan dengan cara berpikir yang sekuler dan kapital – liberalisme, ternyata telah membawa petaka berupa kehancuran planet bumi sekaligus merupakan ancaman terhadap kehidupan dan peradaban manusia. Karena itu, di mana-mana dewasa ini semangat menyelesaikan segala persoalan manusia dengan mengikutsertakan pertimbangan spiritual sudah mulai bergema lagi. Faktor agama yang suclah lama tidur lelap karena dipandang hanya sebagai candu yang meninabobokan masyarakat, diundang untuk turun tangan kembali. Jika pada masa-masa lalu ternyata agama dapat bersikap aktif dan komunikatif, dengan adaptasi-adaptasi tertentu, diharapkan tentunya agama tersebut dapat memainkan perannya kembali.


AMELIA
14709251035
P Mat B
FILSAFAT ILMU
PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

TUGAS KULIAH FILSAFAT ILMU Bagian I (KULIAH FILSAFAT ILMU PROF. DR. MARSIGIT, M.A.) Pertemuan Keenam Kamis, 23 Oktober 2014 Pukul 09.30 – 11.10 di ruang 201A Gedung Lama PPs UNY

TUGAS KULIAH FILSAFAT ILMU (Bagian I)

Berikut adalah 5 pertanyaan yang Sdri. Welli Meinarni buat dan telah saya jawab.

1.       Ada sebuah buku yang pernah saya baca yang membahas, tentang konsep manusia menurut Nietzsche dan Mencius. Tolong berikan komparasi dari pemikiran kedua tokoh tersebut mengenai konsep manusia!
Jawaban saya:
Dari kedua filsuf tersebut (Nietzsche dan Mencius) dapat dilihat bahwa perbedaan keduanya sangat mencolok. Sekali lagi, pemikiran mereka pastilah berbeda berdasar pada lingkungan mereka sendiri. Hal ini erat kaitannya dengan Filsafat Timur dan Filsafat Barat sendiri.
Perbedaan pertama dari kedua konsep tersebut adalah soal tujuan macam apa yang ingin dicapai oleh manusia. Meskipun mereka sama merumuskan tujuan pada dirinya sendiri, tetapi inti dari tujuan yang mereka ungkapkan sudah berbeda. Nietzsche merumuskan tujuan manusia itu ada pada Uebermensch. Sedangkan Mencius merumuskan tujuan manusia ada pada surga yang merupakan puncak kebahagiaan manusia.
Hal kedua adalah perbedaan dalam hal cara untuk mencapai tujuan hidup manusia tersebut. Nietzsche mengatakan bahwa untuk mencapai Uebermensch, manusia harus secara aktif memaklumkan perang dengan dirinya sendiri. Memaklumkan perang di sini mengandung arti bahwa dalam proses menuju pada Uebermensch. Manusia harus secara aktif mengusahakan tercapainya tujuan itu. Sedangkan Mencius lebih cenderung pasif dalam proses mencapai tujuan itu. Pasif di sini sebagai sebuah penyerahan diri seutuhnya pada kodrat manusia (human nature).

2.    Menurut pendapat Anda bagaimanakah manusia yang autentik itu? Mengapa manusia harus menjadi autentik dan apa akibatnya jika seorang tidak autentik?
Jawaban saya:
Manusia yang autentik itu adalah manusia yang menjadi dirinya sendiri, manusi yang tidak menjiplak dari orang lain, sehingga memiliki sikap dan pendirian sendiri. Menurut Guigose, konsep autensititas memiliki dua aspek pemahaman, yang pertama adalah pemahaman bahwa untuk mejadi autentik seseorang perlu menemukan jati diri sejati yang ada di dalam diri melalui proses refleksi. Jika seseorang mampu mencapai pemahaman penuh tentang dirinya sendiri, maka barulah ia mencapai eksistensi diri yang autentik.
Yang kedua adalah selain menemukan jati diri sejatinya, seseorang juga perlu mengeksperikan jati diri sejati tersebut di dalam tindakannya ke dalam dunia sosial. Selain itu orangperlu menjadi dirinya sendiri di dalam relasinya dengan orang lain.

3.        Bagaimana menjadi manusia perempuan dalam filsafat?
Jawaban saya:
Wanita dan pria pada dasarnya sama ditinjau dari tolak ukur nilai-nilai Ilahi. Terdapat beberapa keistimewaan yang dimiliki pria, yaitu berkenaan dengan tugas-tugas keduniaan, yang menunjukan tanggungjawab pria lebih banyak. Wanita adalah gambaran kelemahan dan kehinaan fanatisme dan tradisi jahiliah yang telah membudaya ditengah masyarakat sejak dulu. Membuang anggapan bahwa wanita tidak diperkenankan untuk memanfaatkan fasilitas pendidikan seperti pria. Padahal wanita juga mempunyai hak dalam aktifitas masyarakat. Sebagai lawan dari suami, wanita memiliki tugas dan tanggungjawab terhadap suaminya.

4.        Bagaimana hubungan ilmu, filsafat, dan agama?
Jawaban saya:
ILMU, mencari kebenaran dengan cara penyelidikan (riset) sesuai dengan eksistensinya  yang berhubungan dengan alam empiris.Dalam penyelidikan ilmu selalu mencari  hukum sebab akibat. Sebagai hukum sebab akibat maka kebenaranya pasti ada.
FILSAFAT, karena selalu berhadapan denga alam empiris,  (metafisika, ghaib) maka ia komit dengan organon (alatnya) yaitu logika. Cara kerjanya selalu diawali dengan pertanyaan apa. Berpikir logis, sistematis, radikal, dan universal.
AGAMA, menemukan konsep kebenaran bersumber pada wahyu, kebenarannya bersifat mutlak, absolut sebagiai kebenaran tertinggi.
Ilmu kebenarannya bersifat empiris, filsafat kebenarannya bersifat spekulatif (berdasrkan nalar dan logika), keduanya bersifat nisbi. Agama kebenarannya bersifat absolut mutlak, dalam penentuannya semua perlu perumusan.

5.     Kaum-kaum eksistensialis memiliki gaya hidup yang menjadi serius, dinamis, penuh usaha dan optimis menuju masa depan. Namun oleh pandangan-pandangan yang terkandung di dalam dirinya, segi-segi positif etika eksistensialis itu menjadi berkurang positifnya. Apa saja kelemahan etika eksistensialis, yang menyebabkan hal itu terjadi?
Jawaban saya:
Kelemahan-kelemahan etika eksistensialis diantaranya:
a.    Etika eksistensialis  terperosok ke dalam pendirian yang individualistis. Dengan pendirian itu, di bawah nama melaksanakan proyek hidup, bisa-bisa para pengikut aliran eksistensialis hanya mencari dan mengejar kepentingan diri. Karena yang baik ditentukan sendiri bukan berdasarkan norma, maka yang dianggap baik bukanlah kebaikan sejati, melainkan baik menurut dan bagi diri mereka sendiri. Cara memandang kebaikan yang individualistis itu dapat merugikan sesama, masyarakat dan dunia.
b.      Dengan mengabaikan tata tertib, peraturan, hukum, kaum eksistensialis menjadi manusia yang anti sosial. Tidak dapat disangkal ada norma masyarakat yang sudah using, namun menyatakan segala norma tidak berlaku sungguh melawan akal sehat. Karena norma masyarakat merupakan hasil perjalanan pencarian nilai hidup dan perumusannya
c.      Dengan mengambil sikap bebas, merdeka, kaum eksistensialis memandang kemerdekaan sebagai tidak terbatas. Padahal, dalam hidup ini tidak ada kemerdekaan yang tanpa batas. Karena, dalam perwujudannya selalu akan dibatasi. Pembatasan itu berasal dari sipelaksana itu sendiri dan masyarakat.
d.      Kaum eksistensialis amat memperhitungkan situasi. Namun situasi itu mudah goyah. Kelemahan itu masih diperkuat sifat individualistis yang dipegang oleh kaum eksistensialis. Bila orang bersandar pada situasi dan dirinya sendiri saja, pandangannya menjadi terbatas, lingkup perbuatannya dipersempit, dan pendiriannya rapuh.


AMELIA

14709251035
P Mat B
FILSAFAT ILMU
PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA


Refleksi dari Perkuliahan Filsafat Ilmu Pertemuan ke-5 oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A. pada hari Kamis, 16 Oktober 2014

Refleksi ini terinsprirasi dari perkuliahan Filsafat Ilmu oleh Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A. yang pada pertemuan kali ini beliau memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menuliskan minimal satu pertanyaan dan langsung dijawab oleh beliau secara langsung. Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh mahasiswa Pendidikan Matematika kelas B Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta dan jawaban yang dapat saya refleksikan.

ETIK DAN ESTETIKA DARI PIKIRAN DAN HATI

Berikut adalah pertanyaan pertama yang dituliskan Sdra. Aminullah, S.Pd:

Apakah semua hal yang kita pikirkan atau kita alami harus mampu direfleksikan?

Suatu sifat itu berdimensi meliputi yang ada dan yang mungkin ada jika diintensifkan ataupun diekstensifkan kita tidak menjelaskan seberapa jauh sifat itu sehingga sifat itu disebut yang ada dan yang mungkin ada. Apalah daya pikiran kita untuk mengungkapkan semua, itulah yang kemudian diakui oleh Socrates bahwa “ternyata pada akhirnya aku tidak mengerti apapun”. Tidak semua hal atau sifat yang kita pikirkan dapat kita refleksikan. Direfleksikan kepada siapa dan dimana, direfleksikan kepada yang ada dan yang mungkin ada. Hubungan dunia yang satu dengan dunia yang lain adalah hubungan yang ada dan yang mungkin ada. Semua yang kita pikirkan boleh kita refleksikan tetapi harus melihat ruang dan waktunya. Dengan demikian tidak semua hal yang kita pikirkan dapat direfleksikan karena dibatasi oleh ruang dan waktu. Ruang dan waktunyanya adalah etik dan estetika. Itulah berfilsafat agar kita peduli kepada ruang dan waktu, sopan dan santun terhadap ruang dan waktu.

Berikut pertanyaan kedua dari Sdra. Daud, S.Pd:

Kenapa tingkat teratas itu adalah hati dan apakah batasan dari hati kita?

Kita boleh memilih apa yang hendak kita letakkan di tingkat paling atas. Sebagai contohnya kita memilih yang paling atas adalah wanita cantik. Hal ini berarti apa yang kita pikirkan dan lakukan semata-mata hanya untuk wanita cantik. Sama halnya dengan hati, hati ditempatkan yang paling atas karena hati merupakan etik dan estetika dari spiritualitas. Konsep spiritualitas di Indonesia ditaruh yang paling atas, termuat dalam pancasila sila pertama “Ke-Tuhanan yang Maha Esa”. Kehidupan dunia sekarang ini ternyata bukan spiritualitas yang paling tinggi. Karena bukan spiritualitas  maka tren internasional keberadaannya bukan dalam rangka spiritualitas lagi. Itulah sebabnya mau tidak mau kita harus konsisten dengan budaya kita, dengan kehidupan kita untuk menempatkan hati di tingkat yang paling atas.

Pertanyaan ketiga dari Sdri. Siti Nafsul Mutmainah, S.Pd:

Apa bedanya egois, mandiri, dan pribadi?

Menurut bapak Marsigit, pertanyaan ini masuk ke ranah ilmu bidang. Filsafat itu berbeda dengan ilmu psikologi. Kalau psikologi ada filsafatnya yaitu pengendalian dan ditambah action atau perlakuannya. Sebenarnya manusia hidup itu dibekali dua potensi yaitu potensi fatal dan potensi vital. Potensi fatal itu adalah dia mengikuti suratan takdirnya, dan suratan takdirnya itupun ternyata dipengaruhi oleh ikhtiarnya. Kalau sekarang ikhtiar kita juga potensi kita sebagai wanita, maka itulah takdir kita sebagai wanita. Takdir berikutnya setelah kita berikhtiar, ikhtiar kita di dalam dunia wanita, berarti dengan menggunakan prinsip-prinsip, hukum-hukum, dalil dan teorema, ketentuan teori-teori yang dibuat manusia dua puluh tahun lagi kita bisa membayangkan sebagai ibu rumah tangga yang mempunyai anak, dan kemudian menjadi nenek. Membaca takdir adalah urusan dunia. Disinilah pentingnya berfilsafat, kita berusaha, berikhtiar untuk mampu mengetahui yang ada dan yang mungkin ada. Namun, dalam batas semampu kita, walaupun tidak ada seorangpun yang mampu mengetahui semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka sebenar-benar manusia adalah manusia yang sempurna ciptaan Tuhan dalam ketidaksempurnaannya. Beruntunglah karena kita diberi keterbatasan, sehingga kita bisa mengetahui hidup ini, memaknai hidup ini, karena keterbatasan itu.

Pertanyaan keempat dari Sdri. Tesi Kumalasari, S.Pd:

Filsafat ditulis dalam keadaan jernih.Saat pikiran dan hati kita kacau apakah kita boleh berfilsafat?

Ketika pikiran kita mulai kacau berhentilah untuk berpikir, berdoa dan berdzikirlah mohon ampun dan mohon petunjuk-Nya. Ketika sudah tenang berpikirlah kembali. Kacaunya pikiran adalah awal dari ilmu. Tetapi jangan biarkan hati kita kacau, karena kacaunya hati adalah godaan setan. Kekacauan pikiran kita perlu disyukuri katena itu pertanda kita sedang berpikir. Tapi jangan jadikan kacaunya pikiran kita turut menjadikan hati kita kacau. Artikel Bapak Marsigit yang berjudul ‘elegi hanya doakulah yang tersisa’ menceritakan bagaimana orang tua berambut putih mengatasi kekacauan pikiran. Ada dua macam cara mengatasi kekacauan pikiran yaitu: yang pertama intensifkan dan ekstensifkan kerja pikiran anda dan yang kedua jangan gunakan lagi pikiran anda,tetapi gunakanlah hati. Jadi kita perlu bersyukur karena setiap saat kita mendapatkan wahyu, mendapatkan ilmu kalau kita berkendak. Semuanya tergantung pada diri kita disaat kita membaca elegi-elegi dan membuat komen. Itu sebenarnya merupakan proses agar kita bisa mendapatkan wahyu itu. Engkau adalah dewanya sifatmu, engkau boleh melakukan apapun terhadap bajumu, celananmu, jilbabmu dan lain sebagainya. Maka subyek adalah dewanya predikat. Subyek adalah dewanya para sifat. Dirimu yang sekarang adalah dewanya dari dirimu yang tadi. Dan dirimu yang nanti adalah dewanya dari dirimu yang sekarang.

Pertanyaan kelima dari Sdri. Nunung Megawati, S.Pd:

Bagaimana untuk menggapai pikiran dan hati yang bersih?

Ada dua hal dalam menggapai pikiran dan hati yang bersih yaitu: yang pertama, sesuai dengan kodrat dan takdirnya; yang kedua, mengetahui prinsip-prinsipnya atau teorinya. Prinsip yang dibuat adalah sehebat-hebat pikiranmu janganlah engkau merasa hebat terhadap hatimu. Salah satu contohnya adalah kepercayaan kita kepada Tuhan. Hal ini dikarenakan untuk mengerti Tuhan tidak semata-mata menggunakan pikiran tetapi kita harus menggunakan hati.  Ilmu dalam pikiranmu itu urusan dunia  tetapi sudah masuk ke dalam yang ahkirat maka ada yang namanya ilmu  di dalam hatimu. Sedangkan untuk pikiran, pekerjaan adalah tesis,anti tesis dan sintesis. Tesis itu adalah setiap yang ada dan yang mungkin ada. Kalau dirimu adalah tesis tesis maka diriku adalah anti tesis. Antara dirimu dan diriku itulah sintesis. Antara baik dan buruk selalu ada penjelasannya, maka belajar berfilsafat adalah belajar menjelaskan. Filsafat itu adalah penjelasan itu sendiri, maka ketika kita membaca elegi-elegi dan membuat komen-komen, kita membuat penjelasan dan itu adalah anti tesis serta sintesis-sintesis. Didalam pikiran berikhtiar melakukan sintesis sesuai dengan ruang dan waktunya yang dibatasi dengan etik dan estetika di dalam hatinya. Damai di dalam hati dibingkai dengan doa. Manusia tidak mungkin bisa mencapai damai dan pikiran  jernih tanpa pertolongan dari Tuhan. Tiadalah seseorang yang mampu membersihkan hati kita masing-masing kecuali  dengan pertolongan-Nya.

Pertanyaan keenam dari Sdra. Mohammad Munir,S.Pd :

Apa itu Teologi Bilangan?

Teologi bilangan itu eksak . Satu beda dengan satu, tetapi esa itu adalah Tuhan. Itulah teologi daripada bilangan. Jika kita sulit menyebut teologi dari bilangan sebut saja yang dimengerti yaitu Ketuhanan yang Maha Esa. Itulah teologinya bilangan. Social Matematika adalah hubungan antar orang yaitu apa yang aku pikirkan, apa yang engkau pikirkan di dalam pikiranmu itu adalah subyektif. Pikiramnu belum tentu sama dengan pikiran saya. Jika pikiranmu sama dengan pikiran saya itu namanya pikiran yang obyektif. Ketika kita berpikir secara Matematika benar bahwa 2+3=5. Berarti untuk 2+3=5 pikiranmu sudah mencapai taraf obyektif . hal ini berarti subyektif = obyektif karena samadengan orang yang lain pula. Maka supaya kita mengerti apakah pikiran subyektif benar atau tidak kita perlu bicara, menulis, menjawab ujian, serta perlu yang namanya kegiatan publikasi. Hakikat belajar matematiaka, agar menjadi pengetahuan obyektif maka dipublikasikan supaya dikoreksi. Setelah dikoreksi dikembalikan dan kembali direfisi oleh pengetahuan subyekmu. Itulah hakikatnya belajar yaitu memperbaiki pengetahuan subyektif dengan cara mengadakan yang ada dan yang mungkin ada. Yang mungkin ada disini adalah saran atau kritik dari pemeriksa bisa guru ataupun dosen. Sebab sebelumnya kita belum mengerti jika guru atau dosen tidak memberikan  penilaian. Belum mengerti maksudnya masih yang mungkin ada. Sosialnya matematika, sosialnya bilangan.

Pertanyaan ketujuh dari Sdra. Taufik Akbar, S.Pd:

Bagaimana bertanya yang baik tentang filsafat?

Bertanya yang tepat bukan masalah baik dan tidak baik. Masalah baik dan tidaknya dalam filsafat adalah etik dan estetika. Etik dan estetika terikat oleh ruang dan waktu. Bertanya harus sesuai dengan ruang dan waktunya. Jadi kalau tidak sesuai dengan ruang dan waktu namanya pertanyaan yang buruk. Belajar filsafat adalah supaya kita bisa bersikap sesuai ruang dan waktunya sopan dan santun terhadap  ruang dan waktu karena sebenar-benar ilmu adalah sopan dan santun terhadap ruang dan waktu. Bagaimana engkau bisa sopan dan santun kepada pendidikan Matematika kalau engkau tidak  mengerti pendidikan matematika. Jika kita bisa berbicara tentang Matematika tetapi tidak mengerti berarti kita tidak mengerti terhadap ruang dan waktu. Maka syarat untuk mengerti ruang dan waktu adalah berusaha mengetahui yang ada dan yang mungkin ada.

Pertanyaan kedelapan dari Sdri. Welli Meinarni, S.Pd:

Yang tidak ada di dunia ini ada atau tidak ada?

Imannuel Kant mengatakan jikalau engkau ingin mengetahui dunia maka tengoklah pada pikiranmu. Dunia itu persis seperti yang kita pikirkan. Jadi dunia itu isomorpis dengan  pikiran kita. Pikiran kita dengan pikiran yang lain juga isomorpis. Yang ada dan yang mungkin ada di dalam pikiran kita tak terbatas. Begitu banyak apa yang tidak ada di dalam pikiran kita, yang tidak dapat kita pikirkan. Yang tidak ada  di dalam pikiran kita tersebut semuanya meliputi yang ada dan yang mungkin ada.
Demikian refleksi untuk kesempatan kali ini. Semoga dapat menambah pengetahuan kita tentang filsafat.



Amelia
14709251035
P Mat B
Filsafat Ilmu
Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

Selasa, 28 Oktober 2014

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A Pertemuan ke-4 Kamis, 9 Oktober 2014

Perkembangan Filsafat dan Aliran-Alirannya

Filsafat itu memuat obyek yang ada dan yang mungkin ada. Yang ada dan yg mungkin ada mempunyai tak berhingga sifat-sifat. Kita bisa telaah sifat itu berubah atau tetap. Yang ada itu satu, dua atau banyak. Yang ada itu mengahasilkan Filsafat Monolism, jika dua menghasilkan Filsafat Dualism, dan jika banyak menghasilkan Filsafat Pluralism. Jika yang ada dan yang mungkin ada itu bersifat berubah, maka lahirlah Filsafat Heraklitosionisme. Jika yang ada itu bersifat tetap maka lahirlah Filsafat Permenidesianisme.
Dalam kehidupan sehari-hari sebetulnya mengalir gagasan kontemporer. Belajar filsafat itu ibaratnya ingin menjadi cerdas. Yang terjadi di sana tidak lain tidak bukan sebetulnya yang terjadi di sini. Yaitu dalam pikiran kita masing-masing. Jika kita ingin mengetahui dunia, silahkan tengok ke dalam pikiranmu, karena dunia itu penting seperti yang engkau pikirkan. Apa ada dunia yang tidak sesuai dengan apa yang engkau pikirkan. Ketika engkau mengerti dunia adalah ketika engkau sedang tidak tertidur atau ketika engkau sedang menyadarinya dan ada di dalam pikiranmu.
Yang tetap itu di dalam pikiran, dan yang berubah itu lebih banyak di luar pikiran. Di dalam pikiran lahirlah Filsafat Idealist. Tokohnya Plato atau Platonism. Di luar pikiran lahirlah Filsafat Realism. Tokohnya Aristoteles. Semua serba tetap tidak berubah. Sekali umat tetap umat tidak berubah, sekali batu tetap batu tidak berubah, sekali hidup tetap hidup tidak berubah. Manusia tetap manusia tidak berubah, sekali merah tetap merah tidak berubah, sekali subyek tetap subyek. Yang berubah yaitu tiadalah dunia ini yang tetap semuanya mengalami perubahan. Ini sesuai dengan hukumnya karena aku tidak bisa menyebut diriku.
Ini terjadi hanya dalam pikiran, begitu aku tulis seperti ini (aku = aku) bisa menjadi salah karena ada dua aku, aku kiri dan aku kanan. Jadi matematika itu hanya benar ketika masih ada di dalam pikiran. Ketika diucapkan atau ditulis semua matematika itu menjadi salah. Maka yang bisa aku sama dengan aku hanya Tuhan pencipta alam barjah yang lainnya tidak bisa. Karena aku tidak bisa menyebut diriku sama dengan aku maka sebenar-benar hidup di dunia bersifat kontradiksi. Maka di dalam filsafat ada dua hukum, yaitu hukum identitas dan hukum kontradiksi. Yang tetap bersifat analitik, yang berubah bersifat sintetik. Analitik hukumnya identitas atau tautologi. Selama kita berada di dunia bersifat sintetik hukumnya kontradiksi.Untuk itu aku tidak bisa menyebut diriku sama dengan aku, belum selasai aku menyebut diriku, aku sudah berganti dari diriku yang tadi dengan diriku yang sekarang. Karena terikat dengan ruang dan waktu. Aku tidak sama dengan aku terbebas oleh ruang dan waktu. Analitik itu bersifat apriori. Sedangkan sintetik bersifat aposteriori. Yang tetap ideal tentu berkaitan dengan sesuatu yang ada di dalam pikiran, yang tetap, yang analitik, yang apriori, yang tautologi. Mempunyai dunianya masing-masing.
Dalam pikiran menggunakan rasio. Maka munculah Rasionalisme. Rasionalisme sejalan dengan banyak ide. Yang di luar pikiran adalah pengalaman. Maka munculah Empirisme. Tokoh rasionalisme itu adalah Rene Decrates. Sedangkan tokoh empirisme adalah David Hume. Rene Decrates mengatakan tiada ilmu tanpa pengalaman. Tiadalah ilmu jika tanpa rasio. Aspek dari rasio itu adalah ragu-ragu atau diragukan. Munculah yang namanya empirisme. Analitik itu apriori, sedangkan  sintetik itu aposteriori. Artinya yang tetap itu analitik. Matematika itu analitik yang bersifat konsisten. Karena konsisten munculah Filsafat Koherentism. Sedangkan yang berubah itu sintetik bersifat koresponden, karena koresponden munculah Filsafat Korespondentism. Sesuai dengan keadaanya.
Lahirnya seorang yang netral, yaitu Imanuel Kant. Imanuel Kant mengatakan bahwa Rene Decrates mendewa-dewakan rasio. Sedangkan David Hume mendewa-dewakan pengalaman tetapi meremehkan rasio. Rene Decrates menyatakan ilmu itu analitik apriori. Kemungkinannya analitik apriori, sintetik apriori, analitik aposteriori, dan sintetik apostriori. Analitik aposteriori ini bisa hakekat, analitik itu identitas, kalau dia konsisten dia bisa dipikirkan walaupun belum mengetahui. analitik aposteriori itu bisa berjalan, tapi kalau. Sintetik aposteriori, sintetik peristiwa satu dan peristiwa berikutnya, aposteriori berarti dipikirkan. Inilah paham dari Imanuel Kant. Jadi menurut Imanuel Kant ilmu adalah sintetik apriori. Ini solusi terkenal dari Imanuel Kant. Kenapa sistetik bersifat kontradiksi, berasal dari pengalaman, dari interaksi pengalaman yang satu dengan penagalaman berikutnya, maka diperoleh pengetahuan. Pengetahuan intuitif, lahirlah intuisionims. Karena intuitif berdasarkan pengalaman maka terbentuklah kategori, maka lahirlah Filsafat Kategoritism. Filsafat itu sesuai dengan peristiwanya. Kategori itu adalah cikal bakal logika. Logika itu ada kaitannya dengan pengalaman. Dengan logika dia bisa mencari pengalaman berikutnya. Kemudian berlogika secara berulang kali sehingga lahirlah Hermenitism. Logika bersifat formal sehingga menghasilkan Filsafat Formalisme yang bersifat aksiomatis atau dalil.
Di dalam dunia kontemporer secara sosiologis disebut dengan archaic (manusia batu), tradisional, feudal, modern dan post modern. Bagi kaum Archaic yang terpenting adalah makan dan membuat keturunan, masih telanjang dan belum bisa berubah. SEdangkan kaum tribal hanya mementingkan kehidupan untuk masa sekarang. Tradisional yang belum mengenal computer, handphone dan lain sebagainya atau sudah mengenal tetapi tidak mengikuti perkembangan zaman. Selanjutnya jika tradisional dikuasai dengan motif maka munculah yang dinamakan feudal atau kerajaan. Feodal ini mempunyai teknologi yang menguasai orang, masyarakat dan bangsa sehingga muncul paham feodalism. Setelah feodal munculah masyarakat modern. Di dalam filsafat modern itu mendahului Decrates, sehingga terdapat area gelap dominasi gereja. Area gelap ini, yaitu tidak boleh seseorang mengklaim kebenaran kecuali atas restu gereja. Yang dianggap fatal adalah pendapat yang mengatakan bahwa bumi adalah pusat dari tata surya atau teori geosentrilism. Menanggapi teori ini munculah Copernicus yang mempunyai pendapat yang bertolak belakang dengan dominasi gereja. Copernicus mengemukakan pendapat bahwa pusat dari tata surya adalah matahari atau yang dikenal dengan teori heleosentrism. Setelah masyarakat modern, muncul juga masyarakat post modern. Jadi, kontemporer itu sama dengan masyarakat postmodern atau powernow yang berarti masyarakat yang paling berkuasa. Jadikanlah dirimu masing-masing berkuasa akan dirimu sendiri, sebab kuasa itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada, ekstensif dan intensif. Itulah cabang-cabang dari ilmu filsafat.
Sekian refleksi filsafat ilmu dari pertemuan ke-3. semoga dapat membantu dalam memahami perkembangan, aliran, dan cabang-cabang dalam filsafat.


Amelia
14709251035
P Mat B
Filsafat Ilmu


Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

Rabu, 15 Oktober 2014

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A Pertemuan ke-3 Kamis, 2 Oktober 2014

Memaknai Kehidupan melalui Filsafat

Pada kesempatan kali ini saya akan menuliskan mengenai beberapa hal yang menjadikan inspirasi bagi saya dari perkuliahan Prof. Dr. Marsigit, M.A pada pertemuan ke 3 Kamis, 2 Oktober 2014. Pada pertemuan ke 3 ini beliau memberikan kesempatan kepada mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Negeri Yogyakarta kelas B untuk memberikan pertanyaan yang nantinya akan dijawab langsung oleh beliau.
Berikut adalah pertanyaan pertama yang disampaikan oleh Sdri. Agustiana Dwi Nurcahyani, S.Pd.

Apakah ada hubungan antara tes jawab singkat dengan kemampuan berfilsafat ataupun elegi-elegi?

Tes jawab singkat yang diberikan kepada mahasiswa tidak secara langsung berhubungan dengan kemampuan berfilsafat seseorang. Tetapi ada kemungkinan secara tidak langsung berkontribusi. Tetapi akan melewati tahap-tahap metafisika, mengetahui seperti apa dibalik segala sesuatu itu. Ada beberapa fungsi dari tes jawab singkat yang diberikan, yang pertama adalah untuk silaturahim antara mahasiswa dan dosennya. Kemudian tes jawab singkat juga diberikan untuk mengenalkan bagaimana filsafat itu sebenarnya. Pertanyaan yang ada pada tes jawab singkat dapat memicu pemahaman mahasiswanya dalam membaca filsafat terutama elegi-elegi yang terdapat pada blog Prof. Dr. Marsigit, M.A. powermathematics.blogspot.com
Berikut adalah pertanyaan kedua dari saya sendiri Amelia, S.Pd.

Mengapa di dalam kehidupan ini manusia memiliki masalah dan apakah dengan berfilsafat dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut?

Manusia tidak akan memiliki masalah jika manusia sama dengan manusia. Tetapi manusia tidak akan pernah bisa menjadi manusia karena pada saat turun ke dunia manusia tidak sama dengan manusia. Empat tidak sama dengan empat karena kita bisa menemukan ada dua empat disana, empat pertama dan empat kedua. Karena dunia ini terikat ruang dan waktu, ada ruang pertama dan ruang kedua. Ada aku pertama dan aku kedua. Belum selesai aku mengatakan aku, aku sudah ganti dengan aku yang kedua. Itulah di dunia, maka jangankan ikhtiarnya, kodratnya manusia sudah dibawakan masalah. Jikalau engkau turun ke dunia, masalahmu disebut sebagai hubungan subyek dan predikat. Semua yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini tidak akan pernah bisa mencapai subyek sama dengan subyek. Hanya Tuhan pencipta alam semesta ini yang bisa menjadi subyek sama dengan subyek. Namun kita sebagai manusia di dunia ini selamanya predikat termuat dalam subyeknya. Predikat apa? Predikat itu sifat. Sifat terhadap obyek maupun sifat terhadap subyek maupun sifat terhadap sifat yang lain. Maka sifat itu menentukan kualitas dan kualitas itu dari satu, dua, tiga, sampai yang ada dan yang mungkin ada. Sifat dari pada sifat mempunyai sifat yang meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Semua yang ada di dunia ini tidak akan pernah mencapai subyek sama dengan subyek. Yang benar adalah predikat terkadung di dalam subyeknya. Jika engkau adalah subyeknya maka sifat-sifatmu adalah predikatnya. Jadi bahwa subyek itu tidak sama dengan subyek, itu sudah menjadi sebuah masalah. Tetapi engkau mengerti hidup dikarenakan masalah itu. Engkau bisa memaknai hidup dikarenakan engkau punya masalah. Sebenar-benar hidup adalah masalah itu sendiri. Ketika engkau menghindari masalahmu maka sama sama engkau menghindari hidupmu. Sebagai manusia hanya bisa berikhtiar agar bisa menempati ruang dan waktunya secara proporsional. Karena sebenar-benar hidup bahagia kalau sesuai dengan ruang dan waktunya.
Berikut adalah pertanyaan ketiga yang disampaikan oleh Sdri. Weni Gurita Aedi, S.Pd.

Bagaimana cara berpikir dewasa itu?

Ada dua dimensi yang kita pikirkan, yang satu berpikir yang satu dewasa. Berpikir itu filsafat, dewasa itu psikologi. Kita harus tahu ruang dan waktunya. Ketika kita mendalami akan sangat bagus melalui filsafat dan implikasinya nanti psikologi untuk mengetahui cara berpikir orang perkembangannya dari kecil menuju dewasa.
Berikut adalah pertanyaan keempat dari Sdri. Yulia Linguistika, S.Pd.

Apakah filsafat itu melihat gender, karena dari beberapa filsuf-filsuf yang saya ketahui tidak terdapat seorang perempuan?

Sebenarnya ada filsafat-filsafat yang perempuan tapi mereka muncul di era-era kontemporer. Catatan sejarah memang demikian, tetapi jika kita pelajari mungkin secara sosioantropologi ada kaitan dari kedudukan dan peran wanita dari dulu sampai sekarang. Jangankan hubungan antara laki-laki dan perempuan, tidak setiap orang bisa menuntut ilmu, tidak setiap orang punya hak untuk mengerti, karena ilmu dipersonifikasikan sebagai wahyu. Dan mereka menganggap orang-orang yang ingin memelihara kekuasaan secara ketat menganggap orang yang menguasai ilmu akan berbahaya, maka ilmu itu dibatasi.
Berikut pertanyaan kelima yang disampaikan oleh Sdra. Muhammad Munir, S.Pd.

Bagaimanakah sebenarnya hubungan antara spiritual dengan formal?

Spiritual itu berjenjang. Mulai dari spiritual orang awam sampai spiritualnya kyai sampai spiritualnya ISIS. Materialnya mulai dari material dalam arti pikiran Anda, dalam bentuk otak, yang dekat dengan pikiran sampai yang jauh dari pikiran. Bentuk formal itu bentuk resmi, bentuk tulisan, bentuk dokumen, aturan. Formal merupakan suatu aturan atau skema. Sedangkan formatif itu filsafat yang terdiri dari hakekatnya, epistemologinya, sumber dan pengesahan ilmunya serta etik dan estetikanya. Ibadah secara spiritual, normatifnya seberapa jauh pikiranmu paham tentang ibadah itu, sedangkan formalnya ialah dokumen-dokumen, tulisan-tulisan yang kaitannya dengan ibadah, materialnya bisa saja tempat-tempat yang dipakai untuk beribadah.
Berikut pertanyaan keenam yang disampaikan oleh Sdri. Nunung Megawati, S.Pd.

Bagaimana caranya mecapai bahagia yang sesuai ruang dan waktu?

Bahagia itu etik dan estetika. Tetapi tergantung konsepnya, konsep barat filsafat mecari kebahagiaan dia mencari kebijakan atau mencari ilmu. Orang barat bahagia kalau sudah mencari ilmu. Maka jika kita lihat orang barat punya energi untuk melakukan penelitian sampai ke daerah-daerah pelosok dalam rangka untuk mencari ilmu. Sesuai ruang dan waktunya, budaya barat dan budaya timur berbeda. Budaya timur itu ruangnya mencapai kesempurnaan. Mencapai kesempurnaan itu dasar dan tujuannya dilandasi dengan spiritualitas. Orang timur bahagia jika dia dekat sang khaliq atau sang pencipta. Orang beragama itu bahagia jika terjamin ibadahnya. Semua itu tergantung dimensinya.
Demikianlah beberapa penjelasan atas beberapa pertanyaan perkuliahan Filsafat Ilmu pertemuan ketiga pada hari Kamis tanggap 2 Oktober 2014. Semoga bisa menjadi bahan renungan agar kita bisa menjadi lebih baik lagi.

Amelia
14709251035
P Mat B
Filsafat Ilmu


Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta