Rabu, 01 Oktober 2014

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A Pertemuan ke-2 Kamis, 25 September 2014


Awalnya saya mengalami kesulitan dalam mempelajari filsafat. Banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam benak saya. Apa itu filsafat? Bagaimana itu filsafat? Apa guna filsafat bagi kehidupan? dan sebagainya. Salah satu cara untuk mempelajari filsafat yaitu dengan memperbanyak membaca elegi-elegi karena itu merupakan langkah awal untuk membangun filsafat yang ada pada diri kita. Filsafat itu bersifat personal dan olah pikir maka filsafat itu tidak lain tidak bukan adalah diri kita sendiri (pikiranmu sendiri). Sehingga bangunlah filsafat kita masing-masing. Selain itu juga kita harus mampu membangun dan memposisikan diri sebaik-baiknya sesuai ruang dan waktu untuk membangun filsafat kita masing-masing. Definisi dari filsafat bisa berbeda-beda sesuai pada apa yang ada dalam diri kita masing-masing. Bahkan define filsafat bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu dan pengalaman kita dalam belajar filsafat.
Dalam kesempatan ini saya akan memberikan ulasan mengenai obyek filsafat. Sekiranya tulisan saya bisa bermanfaat bagi siapa saja yang ingin memahami lebih jauh tentang filsafat.

“OBYEK FILSAFAT yang ada dan yang mungkin ada

Obyek filsafat itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Metode dalam berfilsafat itu ada dua, yaitu intensif dan ekstensif. Intensif itu mempunyai arti dalam sedalam-dalamnya, bersifat radik. Sedangkan ekstensif mempunyai arti luas seluas-seluasnya. Tetapi apalah daya manusia karena manusia mempunyai sifat yang serba terbatas. Yang kita anggap dalam ternyata bisa diperdalam lagi oleh orang lain atau oleh diri kita sendiri di waktu yang lain. Yang kita anggap luas ternyata bisa diperluas lagi oleh orang lain atau oleh diri kita sendiri di waktu yang lain. Maka komponen hidup itu adalah fatal dan fital. Fatal itu takdirnya dan fital itu ikhtiarnya. Takdir mengikuti ikhtiar. Substansinya sama, wadah bisa dalam bentuk suara, tulisan, atau benda.
Kemudian alatnya berfilsafat itu menggunakan bahasa analog. Salah satu bahasa analog yang bisa dikembangkan adalah elegi. Dengan membaca elegi berarti kita sudah mulai belajar untuk menggunakan bahasa analog. Bahasa analog itu menembus ruang dan waktu. Dan kelebihan bahasa analog adalah dia bisa menembus ruang dan waktu. Kemampuan menembus ruang dan waktu itulah sebenar-benarnya kemampuan hidup kita, karena tidak ada satupun yang ada dan yang mungkin ada tidak menembus ruang dan waktu. Jika salah satu unsur ditiadakan maka tidak akan ada kehidupan. Jika ruang ditiadakan tidak akan ada kehidupan, jika waktu ditiadakan juga tidak akan ada kehidupan. Seperti contoh ikan ditiadakan air maka matilah si ikan tersebut walaupun bagi serangga dia masih hidup. Jika saja kita ditiadakan dari air dan makanan maka matilah kita, meskipun bagi cacing-cacing tanah dia bisa hidup.
Metode tersebut menggunakan bahasa analog. Bahasa analog itu tidak sekedar kiasan, tetapi lebih tinggi dari kiasan. Misalnya saja ambil saja kata-kata cinta. Karena cinta ini bisa menembus ruang dan waktu. Artinya menembus ruang untuk ruangnya manusia saja ada cintanya orang dewasa, cintanya anak kecil, cintanya suami istri, cintanya orang tua, cintanya orang kepada tuhannya. Jika kita diekstensikan maka dia menembus ruang dan waktu, menembus ke dunia binatang. Seperti cinta monyet, harimau, gajah, kucing, dan sebagainya. Maka secara logika ada cintanya tumbuh-tumbuhan, ada cintanya bebatuan, dan ada cintanya air. Cinta dari yang ada dan yang mungkin ada. Manusia sulit memahaminya jika dia masih terpaku pada suatu dimensi tertentu. Dia harus mampu menembus ruang dan waktu. Cintanya dua buah batu, yang dikiranya dua buah batu tidak bisa bercinta. Siapa yang bercinta? Yang bercinta adalah subyeknya, sang pemilik batu tersebut. Batu yang bertasbih. Siapa yang bertasbih? Yang bertasbih adalah suyeknya. Jenis-jenis bahasa tersebut adalah bahasa analog.
Karena metode filsafat itu bersifat intensif dan ekstensif. Yang mungkin ada itu adalah ada di pikiran kita masing-masing. Contoh nama kampung Prof. Dr. Marsigit, M.A masih menjadi yang mungkin ada. Yang mungkin ada itu bisa selamanya tidak ada dalam diri kita. Obyek filsafat itu adalah yang ada dan yang mungkin ada. Kita bisa menggunakan panca indera kita untuk menjadikan yang mungkin ada menjadi ada. Untuk mengadakan yang mungkin ada menjadi ada tidak semata-mata dengan menggunakan kata-kata, tulisan, tetapi bisa dengan menggunakan salah satu diantara indera kita. Orang yang intuisinya terlatih jika ada sesuatu yang berpotensinya negatif di belakangnya, berdiri bulu kuduknya dan memberitahukan pada orang yang tidak siap. Memanfaatkan kemampuan tertentu untuk mencari keuntungan pribadi.
Pada intinya kita harus bisa mensyukuri segala sesuatu hal. Hanya dengan memahami yang mungkin ada saja kita sudah mampu mensyukuri ciptaan Tuhan yang luar biasa. Tetapi seringkali kita tidak bisa mensyukuri hal tersebut. Contohnya saja setelah input diberikan kita tidak menyadarinya. Itu karena filsafat sudah melekat dalam diri kita hanya saja kita kurang menyadarinya. Obyek filsafat itu yang ada dan yang mungkin ada. Setiap kata-kata dalam filsafat bersifat seri. Kata-kata yang digunakan oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A bersifat seri dan selalu menimbulkan yang mungkin ada menjadi ada. Sehingga kita bisa menghitung berapa obyek pikiran yang mungkin ada dan kemudian telah menjadi ada dalam pikiran kita. Manusia itu mempunyai indikator yang begitu lembut. Manusia mempunyai multi indikator, indikator tersebut bisa diungkapkan secara tidak langsung. Indikator kita juga terkadang menipu. Kita baru menyadari bahwa filsafat itu penting bagi kita. Sehingga tiadalah alasan untuk tidak mensyukuri yang ada dan yang mungkin ada. Semua ini adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Itulah berfilsafat obyeknya yang ada dan yang mungkin ada.
Semoga refleksi ini membantu kita dalam memahami obyek filsafat yang ada dan yang mungkin ada. Tidak ada gading yang tak retak. Maka dari itu jika ada kekurangan dan kesalahan mohon dimaklumi.
Amelia
14709251035
P Mat B
Filsafat Ilmu
Universitas Negeri Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar