Memaknai Kehidupan melalui Filsafat
Pada kesempatan kali ini saya akan menuliskan mengenai beberapa hal yang menjadikan inspirasi bagi saya dari perkuliahan Prof. Dr. Marsigit, M.A pada pertemuan ke 3 Kamis, 2 Oktober 2014. Pada pertemuan ke 3 ini beliau memberikan kesempatan kepada mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Negeri Yogyakarta kelas B untuk memberikan pertanyaan yang nantinya akan dijawab langsung oleh beliau.
Berikut adalah pertanyaan pertama yang disampaikan oleh Sdri. Agustiana Dwi Nurcahyani, S.Pd.
Apakah ada hubungan antara tes jawab singkat dengan kemampuan berfilsafat ataupun elegi-elegi?
Tes jawab singkat yang diberikan kepada mahasiswa tidak secara langsung berhubungan dengan kemampuan berfilsafat seseorang. Tetapi ada kemungkinan secara tidak langsung berkontribusi. Tetapi akan melewati tahap-tahap metafisika, mengetahui seperti apa dibalik segala sesuatu itu. Ada beberapa fungsi dari tes jawab singkat yang diberikan, yang pertama adalah untuk silaturahim antara mahasiswa dan dosennya. Kemudian tes jawab singkat juga diberikan untuk mengenalkan bagaimana filsafat itu sebenarnya. Pertanyaan yang ada pada tes jawab singkat dapat memicu pemahaman mahasiswanya dalam membaca filsafat terutama elegi-elegi yang terdapat pada blog Prof. Dr. Marsigit, M.A. powermathematics.blogspot.com
Berikut adalah pertanyaan kedua dari saya sendiri Amelia, S.Pd.
Mengapa di dalam kehidupan ini manusia memiliki masalah dan apakah dengan berfilsafat dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut?
Manusia tidak akan memiliki masalah jika manusia sama dengan manusia. Tetapi manusia tidak akan pernah bisa menjadi manusia karena pada saat turun ke dunia manusia tidak sama dengan manusia. Empat tidak sama dengan empat karena kita bisa menemukan ada dua empat disana, empat pertama dan empat kedua. Karena dunia ini terikat ruang dan waktu, ada ruang pertama dan ruang kedua. Ada aku pertama dan aku kedua. Belum selesai aku mengatakan aku, aku sudah ganti dengan aku yang kedua. Itulah di dunia, maka jangankan ikhtiarnya, kodratnya manusia sudah dibawakan masalah. Jikalau engkau turun ke dunia, masalahmu disebut sebagai hubungan subyek dan predikat. Semua yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini tidak akan pernah bisa mencapai subyek sama dengan subyek. Hanya Tuhan pencipta alam semesta ini yang bisa menjadi subyek sama dengan subyek. Namun kita sebagai manusia di dunia ini selamanya predikat termuat dalam subyeknya. Predikat apa? Predikat itu sifat. Sifat terhadap obyek maupun sifat terhadap subyek maupun sifat terhadap sifat yang lain. Maka sifat itu menentukan kualitas dan kualitas itu dari satu, dua, tiga, sampai yang ada dan yang mungkin ada. Sifat dari pada sifat mempunyai sifat yang meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Semua yang ada di dunia ini tidak akan pernah mencapai subyek sama dengan subyek. Yang benar adalah predikat terkadung di dalam subyeknya. Jika engkau adalah subyeknya maka sifat-sifatmu adalah predikatnya. Jadi bahwa subyek itu tidak sama dengan subyek, itu sudah menjadi sebuah masalah. Tetapi engkau mengerti hidup dikarenakan masalah itu. Engkau bisa memaknai hidup dikarenakan engkau punya masalah. Sebenar-benar hidup adalah masalah itu sendiri. Ketika engkau menghindari masalahmu maka sama sama engkau menghindari hidupmu. Sebagai manusia hanya bisa berikhtiar agar bisa menempati ruang dan waktunya secara proporsional. Karena sebenar-benar hidup bahagia kalau sesuai dengan ruang dan waktunya.
Berikut adalah pertanyaan ketiga yang disampaikan oleh Sdri. Weni Gurita Aedi, S.Pd.
Bagaimana cara berpikir dewasa itu?
Ada dua dimensi yang kita pikirkan, yang satu berpikir yang satu dewasa. Berpikir itu filsafat, dewasa itu psikologi. Kita harus tahu ruang dan waktunya. Ketika kita mendalami akan sangat bagus melalui filsafat dan implikasinya nanti psikologi untuk mengetahui cara berpikir orang perkembangannya dari kecil menuju dewasa.
Berikut adalah pertanyaan keempat dari Sdri. Yulia Linguistika, S.Pd.
Apakah filsafat itu melihat gender, karena dari beberapa filsuf-filsuf yang saya ketahui tidak terdapat seorang perempuan?
Sebenarnya ada filsafat-filsafat yang perempuan tapi mereka muncul di era-era kontemporer. Catatan sejarah memang demikian, tetapi jika kita pelajari mungkin secara sosioantropologi ada kaitan dari kedudukan dan peran wanita dari dulu sampai sekarang. Jangankan hubungan antara laki-laki dan perempuan, tidak setiap orang bisa menuntut ilmu, tidak setiap orang punya hak untuk mengerti, karena ilmu dipersonifikasikan sebagai wahyu. Dan mereka menganggap orang-orang yang ingin memelihara kekuasaan secara ketat menganggap orang yang menguasai ilmu akan berbahaya, maka ilmu itu dibatasi.
Berikut pertanyaan kelima yang disampaikan oleh Sdra. Muhammad Munir, S.Pd.
Bagaimanakah sebenarnya hubungan antara spiritual dengan formal?
Spiritual itu berjenjang. Mulai dari spiritual orang awam sampai spiritualnya kyai sampai spiritualnya ISIS. Materialnya mulai dari material dalam arti pikiran Anda, dalam bentuk otak, yang dekat dengan pikiran sampai yang jauh dari pikiran. Bentuk formal itu bentuk resmi, bentuk tulisan, bentuk dokumen, aturan. Formal merupakan suatu aturan atau skema. Sedangkan formatif itu filsafat yang terdiri dari hakekatnya, epistemologinya, sumber dan pengesahan ilmunya serta etik dan estetikanya. Ibadah secara spiritual, normatifnya seberapa jauh pikiranmu paham tentang ibadah itu, sedangkan formalnya ialah dokumen-dokumen, tulisan-tulisan yang kaitannya dengan ibadah, materialnya bisa saja tempat-tempat yang dipakai untuk beribadah.
Berikut pertanyaan keenam yang disampaikan oleh Sdri. Nunung Megawati, S.Pd.
Bagaimana caranya mecapai bahagia yang sesuai ruang dan waktu?
Bahagia itu etik dan estetika. Tetapi tergantung konsepnya, konsep barat filsafat mecari kebahagiaan dia mencari kebijakan atau mencari ilmu. Orang barat bahagia kalau sudah mencari ilmu. Maka jika kita lihat orang barat punya energi untuk melakukan penelitian sampai ke daerah-daerah pelosok dalam rangka untuk mencari ilmu. Sesuai ruang dan waktunya, budaya barat dan budaya timur berbeda. Budaya timur itu ruangnya mencapai kesempurnaan. Mencapai kesempurnaan itu dasar dan tujuannya dilandasi dengan spiritualitas. Orang timur bahagia jika dia dekat sang khaliq atau sang pencipta. Orang beragama itu bahagia jika terjamin ibadahnya. Semua itu tergantung dimensinya.
Demikianlah beberapa penjelasan atas beberapa pertanyaan perkuliahan Filsafat Ilmu pertemuan ketiga pada hari Kamis tanggap 2 Oktober 2014. Semoga bisa menjadi bahan renungan agar kita bisa menjadi lebih baik lagi.
Amelia
14709251035
P Mat B
Filsafat Ilmu
Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar